Quinzaharu

Mati rasa. Freya sudah mati rasa. Bahkan ketika pipinya ditampar begitu keras, ia tak bergeming. Luka goresan di pipi karya sang ibu pun tak terasa sakit. Bisa karena terbiasa. Freya bisa menahan sakit karena memang sudah jadi kebiasaannya.

Kali ini, sang ibu kesal karena Freya menolak pindah sekolah, tepatnya ke sekolah mendiang kakaknya. Sulit untuk gadis itu beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi ia tahu seberapa besar tekanan yang akan ia terima di sana. Membayangkannya saja hampir membuat kepala Freya meledak.

Freya dituntut bisa menggantikan kakaknya sebagai siswa dengan julukan si nomer satu. Tentunya akan sangat berat untuk dirinya yang memang tak terlalu menonjol soal akademik. Namun sang ibu mana peduli. Yang ada di pikirannya hanya soal harga diri dan prestasi.

Sebenarnya Freya tahu penolakan ini akan sia-sia. Dia sudah berjanji untuk menuruti semua kemauan sang ibu. Dia sudah menyanggupi segala beban menjadi seorang anak tunggal. Semuanya untuk membayar kesalahannya di masa lalu yang membuat sang kakak pulang ke pangkuan Tuhan.

Kejadian traumatis itu membuatnya sakit jiwa. Puluhan butir obat telah menyatu dalam darah. Tak terhitung berapa garis yang ia gores di lengan. Bukan hanya Della, sang kakak, yang telah tiada, Freya pun begitu. Raganya masih di sini, namun jiwanya telah ikut terbang bersama sang kakak.

Setelah memarahinya habis-habisan, sang ibu pergi bersama kesibukannya. Malam sudah hampir larut. Namun keluarganya dari dulu tidak pernah mengenal kata pagi, apalagi malam. Ayahnya saja sudah hampir sebulan tidak pulang ke rumah.

“Non, ya Tuhan! Non Freya nggak apa-apa, kan?”

Itu Bi Yanti, perempuan paruh baya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Freya. Ia yang menjadi saksi bagaimana semesta menempa Freya begitu keras. Namun Bi Yanti pun tidak dapat berbuat banyak. Nadi kehidupannya akan diputus jika ia berani ikut campur.

Freya tersenyum tipis. Bi Yanti membawanya dalam pelukan. Beban di pundak Freya sedikit runtuh bersamaan dengan air matanya yang meluruh.

“Maaf, bibi nggak bisa jagain non Freya. Bibi sakit sekali melihat non Freya diperlakukan seperti tadi. Tapi bibi nggak bisa apa-apa. Bibi minta maaf,” ujar Bi Yanti dengan isakan yang menyesakkan. Freya mengurai pelukan.

“Nggak apa-apa, Bi. Makasih ya udah baik sama Freya.”

Bi Yanti membenahi rambut Freya yang berantakan sembari mengusap eluhnya. “Lukanya diobatin dulu, ya, Non!” ajak Bi Yanti yang disetujui Freya.

“Bi, nanti Freya mau keluar sebentar, ya. Bibi langsung tidur, nggak usah nungguin Freya pulang. Pintunya dikunci aja. Freya punya kunci cadangan kok,” ujar Freya sembari melangkah dituntun Bi Yanti.

Bi Yanti yang memang tahu Freya sering keluar malam setiap ada masalah tak dapat mencegah. Ke mana gadis itu pergi, ia tidak tahu. Yang terpenting, Freya selalu kembali selamat dengan satu guratan senyum di bibirnya.


“Cewek ngapain jam segini ke Sentul?”

“Nggak ngaca bro? Lo juga ngapain di sini lesehan kaya gelandangan?”

Lelaki yang menegur Freya tertawa sumbang. Ia menyapukan tangan ke aspal sampingnya mempersilakan Freya untuk duduk di sana. Gadis itu tak menolak.

“Udah pada balik, ya?” tanya Freya lagi.

“Iya. Lo tumben telat dateng,” jawab lelaki itu.

“Ada gangguan sedikit di rumah. Kenapa lo masih di sini?”

“Nungguin lo.”

Di balik maskernya, Freya tersenyum. Sudah beberapa kali ia bertemu dengan lelaki ini. Awalnya hanya rival balap. Namun lama kelamaan mereka jadi akrab karena sering tak sengaja bertemu seusai balapan, seperti malam ini. Keduanya jadi yang paling lama menghabiskan malam di arena.

“Tadi siapa yang menang?” tanya Freya setelah beberapa menit tidak ada obrolan.

“Geng lo. Lawannya cetek, baru gabung ke Sentul minggu lalu.”

“Lo nggak turun?”

“Danny yang turun.” Freya mengangguk paham.

Lelaki itu menyodorkan sepuntung rokok pada Freya. Namun sebelum Freya meraih, puntung rokok itu ditarik kembali. “Cewek kok ngerokok,” gumam lelaki itu sambil memantik rokoknya.

Freya menatap lelaki di sampingnya. Korek elektrik itu menyala. Menyinari wajah keduanya di tengah gelapnya malam. Mata tajam lelaki itu mengilat. Menyadari sesuatu yang asing di pelipis Freya.

Setelah mengembus asap ke arah lain, tangannya terulur menepikan rambut Freya yang menutupi pelipis. Namun segera ditangkis oleh Freya.

“Pelipis lo kenapa?”

Freya yang baru ingat luka di pelipisnya bergegas merapikan rambut agar lukanya kembali tertutup. “Nggak apa-apa,” jawabnya.

“Nggak apa-apa gimana? Itu berdarah.”

“Cuman kegores aja tadi.”

“Vanessa.”

Gadis itu mematung. Sebanyak apapun nama itu masuk ke telinganya, Freya masih saja belum terbiasa. Dia selalu saja terkejut, berjengit, atau kadang pikirannya langsung blank. Itu bukan namanya, tapi itulah panggilannya.

Sebagai gadis nomer satu di sekolah, tentunya ia tidak boleh mengotori tracking kehidupannya. Apa jadinya jika anak seorang pengusaha dan model terkenal ditemukan sebagai salah satu pembalap liar di Sentul? Mungkin sang ibu akan membunuhnya jika tahu.

Maka dari itu, Freya tidak pernah melepas maskernya. Freya selalu menghindari percakapan yang mengarah ke kehidupan pribadi. Tak ada yang tahu siapa namanya selain Vanessa. Tidak ada yang tahu di mana rumahnya. Tidak ada yang tahu dari mana ia berasal selain dari geng Black Rose. Semuanya ditutup dengan sangat rapat.

Kini Freya terang-terangan menyelipkan rambutnya hingga luka itu terlihat jelas. “Lo mungkin udah tahu dari mana gue dapet luka ini.”

“Nyokap?”

Freya tersenyum miris. Sebagai dua orang yang sering duduk bersama, kadang Freya kelepasan menceritakan masalahnya pada lelaki di sampingnya. Untung saja lelaki itu bisa dipercaya, semoga. Terbukti sampai sekarang ia tidak pernah membahas keluarga Freya jika bukan Freya sendiri yang memulainya.

Freya tersentak saat dagunya ditarik lelaki itu. Mereka saling menatap.

“Kok bisa kaya gini? Dia mukul lo pake apa?”

Freya tak memberikan tanggapan. Ia terbius oleh tatapan penuh kekhawatiran lelaki yang baru ia sadari cukup tampan. Namun bukan ketampanan yang membuat Freya mematung. Kepedulian lelaki yang bahkan baru ia kenal beberapa minggu ini membuat hatinya berdesir.

Menyadari tak ada jawaban dari Freya membuat tatapan sang lelaki yang awalnya ke pelipis jadi berpindah ke iris Freya. Pandangannya turun, menyelusuri pangkal hidung Freya yang tak tertutup masker. Ia penasaran dengan apa yang ada di balik masker itu.

Freya dengan degup jantung yang berisik menyadari tangan lelaki itu beranjak ke maskernya. Ia tak memberikan perlawanan. Namun ketika maskernya perlahan ditarik ke bawah, ia langsung menghindar.

Lelaki itu mengerjap beberapa kali. Freya menggeser tubuhnya sedikit menjauh.

“Nes,” panggil lelaki itu. “Gue pengen liat wajah lo.”

Bola mata Freya membulat. Ia menelan saliva sebelum menjawab. “Lo tau gue nggak bisa ngelakuin itu.”

“Kenapa? Nggak ada orang di sini selain gue,” jawabnya terdengar memaksa.

“Justin.”

Lelaki bernama Justin itu terdiam. Ia hampir melewati garis pembatas antara dirinya dengan gadis yang ia kenal bernama Vanessa. Seharusnya ia tidak melangkah sejauh ini. Dia dan Vanessa hanya sepasang asing yang tak mempunyai hak untuk mengetahui kehidupan pribadi masing-masing. Namun entahlah, malam ini Justin ingin mengenal Vanessa lebih dalam.

“Sorry.”

Freya melihat raut penyesalan di wajah Justin. Ia jadi merasa bersalah. “Suatu saat gue bakal nunjukin wajah gue di depan lo. Gue janji.”

Wajah Justin tampak bersinar. “Gue akan tunggu saat itu.”

Orang bilang, nama adalah perwujudan doa atau harapan yang ingin dikabulkan saat sebuah kehidupan dimulai. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan nama terbaik, berharap kehidupan mereka akan baik seperti nama mereka. Di dalamnya terdapat sebuah makna atau pesan yang tak disadari turut andil membentuk karakter seseorang. Gadis bernama Freya Grizelle setuju dengan pernyataan tersebut.

Freya Grizelle, sebuah nama dengan arti pejuang cantik yang cerdas. Dia sangat paham alasan orang tuanya memberikan nama itu. Alur kehidupan penuh perjuangan. Kecerdasan adalah keharusan. Semuanya Freya pahami saat semesta terus menghadirkan lika-liku kehidupan yang tak ia harapkan.

Malam semakin larut. Embusan angin semakin menusuk. Namun seakan mati rasa, Freya tak beranjak sedikitpun dari pinggir rooftop sebuah gedung berlantai lima. Setengah dari ujung kakinya sudah menggantung di udara. Siap membawanya untuk menjemput kehidupan yang kekal. Kehidupan yang ia harap lebih membahagiakan.

“Mau lompat?”

Suara bariton seseorang menginterupsi Freya. Ia menoleh dan menemukan seorang laki-laki tengah duduk bersandar tak jauh darinya. Wajah lelaki itu terhalang minimnya pencahayaan.

“Kalau mau lompat, jangan sekarang. Tunggu gue pergi dulu. Gue males jadi saksi kematian lo. Nanti kalau gue nggak bisa jawab, gue dikira nutupin sesuatu. Kalau gue kasih kesaksian palsu, gue bakal dipenjara. Ahelah, mana gue masih SMA. Belum bisa bahagiain orang tua. Nanti ya, lompatnya kalau gue udah pergi aja.”

Freya mengernyit. Lelaki itu tampak beranjak. Mungkin dia akan segera pergi agar tidak menyaksikan Freya mati. Namun ternyata bukan itu yang dia lakukan. Lelaki yang belum diketahui namanya itu malah mendekati Freya.

Tak ada yang bisa dikenali dari wajahnya. Di samping gelapnya malam, lelaki itu ternyata menggunakan kain penutup wajah. Freya jadi tidak bisa mengenali lelaki itu.

“Tapi gue lebih takut lihat mayat yang gue kenali jadi pemberitaan di mana-mana. Nggak menutup kemungkinan lo bakal menghantui gue karena udah biarin lo mati sia-sia. Turun, yuk! Emang lo nggak kedinginan apa?” ujar lelaki itu seraya mengulurkan tangan. Bak tersihir oleh ucapannya, Freya meraih tangan lelaki itu tanpa ragu. Dia sedikit melompat dan dengan sigap ditangkap oleh lelaki itu. Mereka berdiri berhadapan dengan tangan yang masih bertaut.

“Gue pikir lo bakal nolak terus teriak-teriak kaya di sinetron. Ternyata yang kayak gitu nggak beneran ada, ya! Gue kebanyakan nonton sinetron bareng ibu jadi gini dah.”

Freya masih membisu. Dia sibuk mengenali siapa sosok lelaki yang bicaranya santai tapi telapaknya sangat dingin dan bergetar. Apa dia sedang menutupi rasa takut melihat Freya akan melompat tadi?

Lelaki itu menghela napas panjang. Ia merogoh saku dan mengeluarkan sebuah permen. Tangan Freya yang masih digenggam lalu dibalik dan diselipkan permen itu di sana. Ia juga melepas jaketnya untuk dikenakan Freya.

“Lagi ada masalah ya? Sorry, gue nggak bisa kasih apapun buat bantu masalah lo. Itu permen gue dapet dari kembalian rokok, dimakan aja. Katanya makan yang manis-manis bisa bikin suasana hati jadi lebih baik. Di sini dingin banget, mending lo pulang sebelum sakit. Tapi sorry, gue nggak bisa anter lo pulang. Gue udah ada janji sama temen. Gue duluan, ya!”

Lelaki itu melenggang pergi. Tak memberikan kesempatan pada Freya untuk menjawab. Namun baru beberapa langkah, ia berbalik.

“Gue nggak mau pertemuan selanjutnya, kita udah beda alam. Jadi jangan coba-coba lompat setelah gue pergi. Lagi pula, lo masih punya tanggung jawab buat balikin jaket gue.”

Ia kembali melenggang, menyisakan tanda tanya besar di benak Freya. “Dia lupa kasih tau di mana gue bisa balikin jaketnya.”

Semifinal berhasil terlewati dengan mudah. Apa yang telah dikhawatirkan tidak terjadi. Jarvis lega, setidaknya tahun ini ia berhasil lolos semifinal. Tidak seperti tahun lalu.

Namun yang ia khawatirkan sekarang adalah tim yang akan ia temui di final. Ia sudah bersyukur tidak bertemu mereka di semifinal. Namun takdir tak mengijinkan untuk bernapas lega. Jarvis harus kembali berhadapan dengan mereka, seperti setahun yang lalu.

“Wuih! Ada si Jarvis! Lama nggak ketemu ya hahaa! Gimana? Sehat?”

Jarvis tak memberikan respons. Ia berusaha abai dengan meregangkan otot-ototnya sebelum pertandingan dimulai.

“Gimana kabar tangan, Vis? Udah nyambung lagi?” ujar orang itu diiringi tawaan teman satu timnya.

Sagara melihat dari kejauhan. Ia mendekat lalu menarik Jarvis untuk berpindah tempat.

“Semoga tangan lo aman-aman aja ya!” teriak si lawan mengiringi langkah Sagara dan Jarvis yang menjauh.

“Fokus. Gue yakin lo bisa,” hibur Sagara seraya menepuk bahu Jarvis. Lelaki itu mengangguk. Jarvis lantas memberikan isyarat kepada yang lain untuk berkumpul. Sedikit memberikan petuah dan arahan sebelum pertandingan benar-benar dimulai.

“Kemenangan emang tujuan utama kita. Tapi gue harap, keselamatan tetep jadi prioritas. Jangan bahayain diri sendiri cuman buat mencetak poin. Lo pada tau alur permainan lawan. Gue pernah celaka dan gue belajar dari sana untuk lebih berhati-hati. Gue harap kalian juga belajar dari apa yang gue alamin dulu.”

Semuanya fokus mendengarkan Jarvis. Apalagi lelaki itu sampai membawa peristiwa traumatis yang membuat salah satu tangannya cidera. Tak ayal, beberapa dari mereka khawatir kejadian itu akan terulang, terutama Sagara yang melihat langsung bagaimana Jarvis tergeletak di lapangan sambil merintih kesakitan.

“Lo juga, Vis. Jaga diri lo,” balas Sagara yang diangguki Jarvis.

“Yo! Semangat!” seru Wira sambil menjulurkan tangannya. Yang lain bergantian menumpuk tangan sambil menyuarakan kalimat penyemangat.

“MENANG! MENANG! MENANG!”

Pertandingan dimulai dengan sengit. Poin keduanya hampir seimbang. Setiap poin yang tercetak akan langsung dibalas. Decit sepatu bersautan menambah suasana tegang dalam stadion.

Tangan Jarvis dingin, terutama tangan kanan yang dulu jadi korban dari kelalaiannya. Namun ia tidak boleh mundur. Dia kapten, dia harus membawa timnya menang. Dia harus membawa piala paling tinggi di podium, seperti apa yang dikatakan oleh Bisma. Jarvis harus melawan rasa takutnya.

Baru saja ia akan menyerang, salah seorang lawan menubruk tubuhnya. Peluit wasit memekik. Sorakan penonton menggelegar. Jarvis terjatuh dengan tumpuan tangan kanan. Ia meringis, rasanya ngilu.

“Vis!” Sagara yang kebetulan mengoper bola pada Jarvis lambung berlari menghampiri. “Vis, lo nggak apa-apa, Vis?”

“Nggak apa-apa,” jawab Jarvis yang masih mengernyit sambil menggerakkan tangan kanannya.

Derap langkah beberapa pemain terdengar mendekat. Mereka langsung mengerubungi Jarvis yang tengah berusaha berdiri.

“Ada yang luka, Vis?” tanya Wira khawatir.

“Nggak ada. Kalem aja,” jawab Jarvis berusaha menenangkan meskipun gagal. Mereka jelas khawatir karena Jarvis beberapa mengernyit sambil memijat tangannya.

“Lo kalo main yang bener dong, sat! Jangan bawa-bawa fisik!”

Tanpa diduga, Yasa menghampiri lelaki yang baru saja membuat Jarvis terjatuh. Suasana kembali memanas saat tim lawan tak terima dengan ucapan Yasa. Peluit wasit kembali melengking. Penonton semakin riuh.

“KONTROL EMOSI! YASA! JANGAN TERPANCING!” teriak sang pelatih, Angga, dari pinggir lapangan. Dia lalu menyuruh anak timnya ke pinggir setelah mendapat ijin dari wasit.

“Semuanya tenangkan diri! Silakan minum dulu!” perintah pak Angga yang langsung dituruti semua anak timnya, termasuk Jarvis.

“Jarvis, kalau tangan kamu sakit, mundur saja. Biar Bagas yang menggantikan.”

“Nggak,” tolak Jarvis dengan tegas.

“Jangan memaksakan diri. Nanti kamu cedera lagi.”

“Saya kapten. Saya harus ikut sampai akhir, sampai tim saya menang.”

Pak Angga tampak menghela napas pasrah. Anak didiknya ini memang keras kepala. “Kompres dulu tangannya. Biarkan tim kesehatan cek tanganmu.”

Pak Angga memanggil tim kesehatan dengan tepukan tangan. Jarvis memandang sengit. Dia benci dengan kenyataan bahwa Angga masih sangat peduli pada keadaannya.

Pertandingan kembali dilanjutkan. Seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya, langkah Jarvis makin gesit dan lincah. Ia beberapa kali menghindari tubrukan lawan yang beresiko membuatnya jatuh. Dengan kerja sama yang baik, putra harapan makin melebarkan jarak poin dengan lawan.

Rissa tak sadar menggigit jarinya bersamaan dengan bola mata yang bergulir ke sana ke mari mengikuti langkah Jarvis. Ia hampir menangis saat Jarvis kembali terjatuh. Namun lelaki itu langsung bangkit. Ia bisa merasakan kuatnya ambisi Jarvis untuk membawa kemenangan.

Sesuai harapan, tim putra harapan menang. Sorak sorai penonton menggelegar. Jarvis berteriak keras, membebaskan beban yang menggantung di jiwanya. Ia berhasil, ia berhasil membawa timnya meraih kemenangan.

Semua anggota tim putra harapan langsung berlari mengerubungi Jarvis untuk berselebrasi atas kemenangan yang baru saja diraih. “MENANG! MENANG! MENANG!”

Rissa sontak melompat saking bahagianya saat Jarvis memasukkan poin terakhir penentu kemenangan. Ia sangat lega apa yang dikhawatirkan sedari tadi tidak terjadi. Melihat Jarvis dengan senyum lebar yang sangat jarang ia lihat membuat rongga dadanya menghangat.

“Selamat, Kak! Selamat kak Jarvis!” batin Rissa tanpa melepas pandang dari Jarvis. Namun maniknya mendadak membulat saat Jarvis tiba-tiba tenggelam dalam kerumunan. Teman-temannya panik.

“EH ITU TANDU! TANDUNYA KELUARIN!” pekik salah seorang panitia di samping Rissa.

Rissa kembali melempar pandang ke lapangan. Terlihat Jarvis yang direbahkan di tandu lalu diangkut ke luar lapangan. Rissa bisa melihat dengan jelas lelaki itu memegangi tangan kanannya dengan raut kesakitan.

“Astaga!” Rissa bergegas mengemasi barangnya dan menyusul mereka.

Mobil Arsa terparkir mulus di halaman kontrakan sahabatnya, Aji. Ia keluar dari mobilnya dan mendapati sebuah motor matic berwarna merah yang ia kenal milik Maura, pacar Aji. Dua sejoli itu masih menunggunya.

“Mikom!” teriak Arsa sambil membuka pintu bermaksud mengagetkan keduanya. Berhasil. Aji dan Maura yang lagi makan bareng terkejut. Mana si Aji keselek.

“Pelan dong, Sa!” tegur Maura yang langsung menyodorkan air pada Aji.

“Gue kira lagi di kamar,” balas Arsa cengengesan lalu duduk di hadapan mereka.

“Anjing lu, Sa,” umpat Aji.

“Lo mau ngomong apa sama gue, Ra?” tanya Arsa pada Maura.

“Lo beneran lagi deket sama Alana? Udah nggak sama Shofi lagi?”

“Alana kan temen sekelas gue.”

“Lo tau jelas apa maksud gue, Sa.”

Arsa menghempaskan punggungnya di sandaran sofa. Melihat temannya tampak frustasi, Aji melemparkan sekotak rokok ke hadapan Arsa.

“Sebat dulu biar seger.”

“Gue nggak nyebat di depan cewek.”

Jawaban Arsa membuat Aji yang sedang memantik rokoknya jadi terhenti. Ia melirik Maura lantas mendengus. Rokok yang sudah terapit kembali diletakkan di meja.

“Aji tadi udah ceritain semuanya ke gue. Kayaknya lo salah paham, Sa. Alana nggak seburuk itu. Dia bener-bener terpaksa jual barang dari lo,” tambah Maura.

“Tetep aja dia harus izin ke gue, kan? Gimanapun itu barang dari gue,” sanggah Arsa.

“Ya, tapi lo udah kasih ke Alana kan? Berarti barang itu udah jadi hak miliknya Alana. Dia bebas mau ngapain aja sama barangnya. Kalo dia pinjem ke lo, baru lo ada hak buat marah.”

Arsa mulai tersadar. Benar juga apa yang dibilang Maura. Namun yang Arsa permasalahkan di sini adalah sikap Alana yang ia anggap tidak menghargai pemberiannya. Apalagi Arsa sama sekali belum pernah melihat barangnya dipakai oleh cewek itu. Arsa membeli semuanya untuk Alana pakai, bukan untuk dijual.

“Ya lo coba pikir, Ra. Misal lo ngasih barang ke Aji, tapi si Aji malah jual barangnya. Lo terima nggak? Kecewa kan lo?”

Maura langsung melirik Aji. Yang dilirik jadi salah tingkah dan memukul Arsa. “Lo yang bener aja ngasih contohnya. Mau gue ribut sama Maura?”

“Ya, tapi sa … Alana tuh terpaksa jual barang dari lo. Dia butuh uang. Bokapnya harus dioperasi dan butuh duit secepatnya. Dia nggak punya pilihan lain selain jual barang dari lo.”

Kepala Arsa mendongak cepat. “Bokapnya Alana dioperasi?”

Maura mengangguk. “Kemarin pas gue cod sama dia, kita sempet ngobrol. Karena dia butuh persetujuan dari gue kalo suatu saat barang pembelian gue bakal diambil lagi sama dia. Dia bilang kalo ada uang pun, dia nggak akan pernah jual barangnya. Dia bener-bener keliatan terpaksa.”

Arsa hanya diam mendengar penjelasan Maura. Sedangkan Aji sibuk dengan ponselnya sambil memainkan rambut panjang Maura.

“Trus gue tanya, kenapa harus ditarik balik barangnya? Nggak sekalian dijual aja? Lagipula sama dia kan nggak pernah dipake. Di sisi lain, gue juga naksir banget sama barangnya. Tapi dia langsung nolak. Lo tau alasannya apa, Sa?”

Arsa tidak menjawab. Dia terlalu takut mendengar apa yang dijawab Alana. Bahkan detak jantungnya sudah meningkat. Akan ada sebuah penyesalan yang menghampiri Arsa sebentar lagi.

“Karena barang yang dia jual itu dari cowoknya, cowok yang dia suka. Dia seneng banget bisa dapet barang-barang itu. Bahkan dia sempet nangis pas harus ngerelain barang-barang itu jatuh ke tangan orang lain. Lewat matanya, gue bisa liat sebenernya dia nggak ikhlas jualin barangnya.”

Selamat datang di ruang penyesalan, Arsa Gautama.

“Pas gue balikin barangnya, dia keliatan lega banget. Dia bilang kalo dia nyesel udah jualin semua pemberian cowoknya sampe cowoknya marah. Katanya dia mau buru-buru ngabarin cowoknya, berharap cowoknya mau maafin dia. Alana udah bilang ke lo kan, Sa? Lo maafin dia, kan?”

Tidak, Arsa tidak memaafkan Alana. Bahkan dia menyuruh Alana untuk membakar semua pemberian darinya.

“Diliat dari ekspresi lo, kayaknya lo nggak maafin dia.”

Arsa meraup wajahnya dengan helaan napas kasar. “Alana nggak cerita apapun sama gue! Gue mana tau alasan dia ternyata kaya gitu!”

“Ya, elo nggak kasih dia kesempatan kali.”

Lelaki itu memijit pelipisnya. Benar, semua yang dibilang Maura benar. Arsa tidak memberikan kesempatan pada Alana untuk menjelaskan semuanya. Semua ini salah Arsa.

“Sekarang lo samperin dah orangnya, minta maaf.” Akhirnya Aji bersuara.

Tanpa pikir panjang, Arsa langsung menyambar kunci mobilnya dan pergi meninggalkan Aji dan Maura.

“Makasih, Ra,” ujar Arsa sambil berlalu.

Makasih udah nyadarin kalo gue bener-bener bego soal Alana.


Sudah berulang kali Arsa memanggil Alana, namun tidak ada jawaban dari cewek itu. Pesannya juga tidak dibalas satupun. Arsa jadi khawatir.

Salah seorang penghuni kos keluar. Arsa langsung mencegatnya.

“Misi mba, Alana ada di dalem nggak?” tanya Arsa.

“Nggak ada, Mas. Anaknya sejam yang lalu baru aja pergi. Mau pulang katanya.”

“Pulang? Pulang ke mana?”

“Kalo nggak salah Surabaya deh.”

“Surabaya?!”

Arsa cukup terkejut. Jarak Jakarta dan Surabaya cukup jauh. Butuh waktu sekitar 10 jam menggunakan mobil atau kereta. Mengapa Alana mendadak pergi sejauh itu?

“Coba aja disusul, Mas. Siapa tau anaknya masih di stasiun.”

“Oke, oke. Makasih banyak ya, Mbak!”

Arsa bergegas kembali ke mobilnya dan melesat menuju stasiun. Berharap masih dapat menemui Alana untuk meminta pengampunan. Namun harapannya tak direstui semesta.

Alana telah pergi. Meninggalkan Arsa dengan segudang penyesalan di hati.

Alana nggak bisa nolak permintaan Arsa. Gimanapun cowok itu udah banyak bantu dia. Mulai dari masalahnya sama Dean, sama Shofi, ngasih dia barang-barang mahal, dan yang terakhir comfort words yang Arsa kasih pas mood Alana lagi nggak baik.

Lagipula nggak ada salahnya nyoba kenalan sama keluarga Gautama. Siapa tahu bisa kecipratan tajirnya kan hehe

Sebenernya desas-desus kekayaan keluarga Gautama udah sering jadi bahan pembicaraan. Namun orang-orang masih sering ragu karena ya gaya hidup mereka terbilang biasa aja, nggak terlalu menunjukkan berapa rupiah yang mereka miliki. Makanya pada nganggep Arsa definisi orang kaya, tapi bukan kaya yang WOW gitu.

Alana juga sempet berpikiran kaya gitu. Tapi pas dia dateng ke acara keluarga Arsa, semuanya terpatahkan. Ini orang bukan sekedar tajir, tapi SUPER TAJIR. Nggak ada tuh yang namanya mobil Avanza atau Daihatsu Ayla yang nangkring di parkiran. Yang ada Fortuner, Ferrari, Tesla, atau BMW. Sumpah, Alana insecure banget.

Kadang dia mikir, kok bisa orang setajir Arsa jadi teman sekelasnya? Maksudnya kenapa dia nggak milih kampus yang lebih bergengsi dari kampus mereka saat ini? Alana yakin Arsa mampu daftar kuliah di kampus ternama. Dia juga nggak bego-bego amat kok. Kalo emang bego, ada duit yang bisa bantu dia masuk ke sana.

Ya, namanya juga orang kaya. Kadang pola pikirnya sulit buat dimengerti. Apalagi sama kalangan menengah kaya Alana.

Tadi pagi, Arsa kirim baju buat dresscode acara sore ini. Alana udah nebak bajunya bakal lain dari biasanya, DAN BENER. Dia dikasih gaun. Alana mau nangis aja rasanya.

Gaun yang dikasih oma Arsa bukan gaun pesta yang heboh, glamour, atau lebar kaya kurungan ayam. Gaun berwarna merah maroon itu jatuh, mengikuti lekuk tubuh Alana sampai batas lutut. Bagian atasnya terlihat anggun dengan menunjukkan tulang selangka Alana yang cantik. Lengannya tidak terlalu panjang maupun pendek. Alana sangat bersyukur gaun ini nggak nunjukkin keteknya.

“Udah siap?”

Alana tersentak dari lamunan. Dia langsung noleh ke Arsa yang lagi nyengir ngeliatin dia. Wajah Alana sontak memerah. Bukan karena malu diliatin, tapi karena Arsa yang gantengnya nggak sopan banget.

Senada dengan Alana, Arsa pake kemeja merah maroon dengan bawahan jeans yang nggak terlalu ketat. Lengan kemeja yang pendek membuat otot bisep Arsa terpampang jelas. Rambutnya ditata ke atas, menunjukkan jidatnya yang bersinar seperti masa depan.

Dan yang paling menarik perhatian Alana adalah wangi parfum cowok itu. Alana sangat menyukai cowok yang wangi. Bahkan dia sempet berpikir nggak peduli cowok itu mau nggak ganteng atau nggak kaya kalo dia wangi, Alana bakal suka.

“Malah ngalamun.”

Alana tersentak lagi. “Eh iya apa, Sa?”

Arsa menggeleng tanpa melepas pandang dari Alana. Sebenernya dia lagi terpesona sama cewek di depannya ini. Cih, dua orang yang saling terpesona tapi nggak mau saling muji.

“Turun, yok!” ajak Arsa lantas melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Alana menyusul setelahnya.

Memasuki pelataran rumah, Alana dibuat takjub sama dekorasi yang elegan ala wedding party outdoor. Nggak terlalu ramai emang, tapi ini udah kelewat bagus cuman buat ngerayain tumbuhnya sebiji buah stroberi. Orang yang nggak tau pasti ngeliatnya kaya ada acara lamaran atau bahkan nikahan.

Tamu yang datang juga nggak sedikit. Alana liatnya lucu aja karena semua orang pakai dresscode yang sama. Dia baru sadar warna maroon sama kaya warna buah yang jadi perayaan makan besar sore ini.

Arsa membawanya masuk ke rumah. Sepanjang jalan mereka udah disapa banyak orang. Keliatannya Arsa cukup terkenal di keluarganya. Meskipun sibuk menyapa sanak saudara, Arsa tidak pernah lupa untuk mengenalkan Alana juga. Hal itu cukup membuat Alana merasa dihargai.

“Kita ketemu oma sama nyokap gue dulu ya? Baru gue kenalin ke saudara yang lain.”

Mendengarnya, ritme degup jantung Alana meningkat drastis. “Serius, Sa? Gue takut sumpah!”

“Sante aja. Anggep mereka nyokap sama oma lo sendiri.”

Arsa dan Alana masuk semakin dalam. Terlihat sekumpulan orang di meja makan yang sibuk bersenda gurau. Alana yakin di antara mereka ada ibu dan nenek Arsa.

“Eh, Arsa!”

Baru saja Arsa mau menyapa, Oma nya sudah menyapa duluan. Melihat cucu kesayangannya datang, membuat perempuan lanjut usia itu beranjak menghampiri dan memberikan pelukan hangat.

“Oma sudah tunggu kamu dari tadi, lho!”

Arsa meringis. “Maaf, Oma. Tadi harus jemput Alana dulu jadi lebih jauh jaraknya.”

Yang disebut namanya diam-diam terkejut. Sang Oma lantas melirik ke sebelah Arsa.

“Ini pacar kamu?!” tanya Oma terlihat antusias.

Arsa menggaruk tengkuknya sambil mengangguk.

“Ya Gusti, cantiknya!”

Wajah Alana merebus seketika. Ia berusaha keras tidak salah tingkah. Alana cepat-cepat membungkuk untuk meminta salam. Sang Oma menjulurkan tangan yang langsung dicium Alana.

“Selama sore, Oma. Maaf karena saya, Arsa jadi datang terlambat.”

Demi apa, Alana bingung banget mau ngomong apa.

“Nggak apa-apa. Duh, gaunnya pas sekali buat kamu ya. Padahal Oma kasihnya cuman mengandalkan naluri. Alhamdulillah ukurannya pas!”

Alana terkekeh. “Iya, Oma, makasih. Gaunnya bagus banget.”

“Sama-sama, Cantik. Ayo duduk! Kita makan bareng!”

Sang Oma dengan akrabnya langsung merangkul lengan Alana. Cewek itu agak panik hingga beberapa kali menoleh ke Arsa mencari bantuan. Namun cowok itu hanya tersenyum dan menyuruh Alana menuruti kemauan Oma.

“Arsa, kamu makannya di tempat laki-laki dong! Ini meja khusus perempuan!” tegur salah seorang tante Arsa yang duduk di sana.

“Mentang-mentang bawa pacar jadi mau nempel terus ya!” timpal Tante Arsa yang lain.

Arsa yang lagi menyalami ibunya jadi tertawa. “Iya, ini mau salim aja sama mamih kok, Tan.”

“Sa!” bisik Alana yang udah duduk di ujung sebelah Oma. Arsa yang hendak melenggang langsung balik arah menghampiri Alana.

“Kenapa?”

“Gue ditinggalin di sini sendiri?”

“Iya, gapapa. Liat sendiri kan Oma suka sama lo.”

“Eh, tapi gue takut! Lo di sini aja dong!”

“Nggak usah takut. Nggak bakal ditanya macem-macem. Cuman basic information aja paling. Gue duduk deket sini kok. Masih keliatan.”

Alana cemberut. Arsa gemas lantas menepuk pucuk kepala Alana.

“Nanti kalo udah nggak nyaman atau cape, chat gue aja,” ujarnya sembari mengusap rambut Alana lantas melenggang pergi.

Alana nggak bisa nolak permintaan Arsa. Gimanapun cowok itu udah banyak bantu dia. Mulai dari masalahnya sama Dean, sama Shofi, ngasih dia barang-barang mahal, dan yang terakhir comfort words yang Arsa kasih pas mood Alana lagi nggak baik.

Lagipula nggak ada salahnya nyoba kenalan sama keluarga Gautama. Siapa tahu bisa kecipratan tajirnya kan hehe

Sebenernya desas-desus kekayaan keluarga Gautama udah sering jadi bahan pembicaraan. Namun orang-orang masih sering ragu karena ya gaya hidup mereka terbilang biasa aja, nggak terlalu menunjukkan berapa rupiah yang mereka miliki. Makanya pada nganggep Arsa definisi orang kaya, tapi bukan kaya yang WOW gitu.

Alana juga sempet berpikiran kaya gitu. Tapi pas dia dateng ke acara keluarga Arsa, semuanya terpatahkan. Ini orang bukan sekedar tajir, tapi SUPER TAJIR. Nggak ada tuh yang namanya mobil Avanza atau Daihatsu Ayla yang nangkring di parkiran. Yang ada Fortuner, Ferrari, Tesla, atau BMW. Sumpah, Alana insecure banget.

Kadang dia mikir, kok bisa orang setajir Arsa jadi teman sekelasnya? Maksudnya kenapa dia nggak milih kampus yang lebih bergengsi dari kampus mereka saat ini? Alana yakin Arsa mampu daftar kuliah di kampus ternama. Dia juga nggak bego-bego amat kok. Kalo emang bego, ada duit yang bisa bantu dia masuk ke sana.

Ya, namanya juga orang kaya. Kadang pola pikirnya sulit buat dimengerti. Apalagi sama kalangan menengah kaya Alana.

Tadi pagi, Arsa kirim baju buat dresscode acara sore ini. Alana udah nebak bajunya bakal lain dari biasanya, DAN BENER. Dia dikasih gaun. Alana mau nangis aja rasanya.

Gaun yang dikasih oma Arsa bukan gaun pesta yang heboh, glamour, atau lebar kaya kurungan ayam. Gaun berwarna merah maroon itu jatuh, mengikuti lekuk tubuh Alana sampai batas lutut. Bagian atasnya terlihat anggun dengan menunjukkan tulang selangka Alana yang cantik. Lengannya tidak terlalu panjang maupun pendek. Alana sangat bersyukur gaun ini nggak nunjukkin keteknya.

“Udah siap?”

Alana tersentak dari lamunan. Dia langsung noleh ke Arsa yang lagi nyengir ngeliatin dia. Wajah Alana sontak memerah. Bukan karena malu diliatin, tapi karena Arsa yang gantengnya nggak sopan banget.

Senada dengan Alana, Arsa pake kemeja merah maroon dengan bawahan jeans yang nggak terlalu ketat. Lengan kemeja yang pendek membuat otot bisep Arsa terpampang jelas. Rambutnya ditata ke atas, menunjukkan jidatnya yang bersinar seperti masa depan.

Dan yang paling menarik perhatian Alana adalah wangi parfum cowok itu. Alana sangat menyukai cowok yang wangi. Bahkan dia sempet berpikir nggak peduli cowok itu mau nggak ganteng atau nggak kaya kalo dia wangi, Alana bakal suka.

“Malah ngalamun.”

Alana tersentak lagi. “Eh iya apa, Sa?”

Arsa menggeleng tanpa melepas pandang dari Alana. Sebenernya dia lagi terpesona sama cewek di depannya ini. Cih, dua orang yang saling terpesona tapi nggak mau saling muji.

“Turun, yok!” ajak Arsa lantas melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Alana menyusul setelahnya.

Memasuki pelataran rumah, Alana dibuat takjub sama dekorasi yang elegan ala wedding party outdoor. Nggak terlalu ramai emang, tapi ini udah kelewat bagus cuman buat ngerayain tumbuhnya sebiji buah stroberi. Orang yang nggak tau pasti ngeliatnya kaya ada acara lamaran atau bahkan nikahan.

Tamu yang datang juga nggak sedikit. Alana liatnya lucu aja karena semua orang pakai dresscode yang sama. Dia baru sadar warna maroon sama kaya warna buah yang jadi perayaan makan besar sore ini.

Arsa membawanya masuk ke rumah. Sepanjang jalan mereka udah disapa banyak orang. Keliatannya Arsa cukup terkenal di keluarganya. Meskipun sibuk menyapa sanak saudara, Arsa tidak pernah lupa untuk mengenalkan Alana juga. Hal itu cukup membuat Alana merasa dihargai.

“Kita ketemu oma sama nyokap gue dulu ya? Baru gue kenalin ke saudara yang lain?”

Mendengarnya, ritme degup jantung Alana meningkat drastis. “Serius, Sa? Gue takut sumpah!”

“Sante aja. Anggep mereka nyokap sama oma lo sendiri.”

Arsa dan Alana masuk semakin dalam. Terlihat sekumpulan orang di meja makan yang sibuk bersenda gurau. Alana yakin di antara mereka ada ibu dan nenek Arsa.

“Eh, Arsa!”

Baru saja Arsa mau menyapa, Oma nya sudah menyapa duluan. Melihat cucu kesayangannya datang, membuat perempuan lanjut usia itu beranjak menghampiri dan memberikan pelukan hangat.

“Oma sudah tunggu kamu dari tadi, lho!”

Arsa meringis. “Maaf, Oma. Tadi harus jemput Alana dulu jadi lebih jauh jaraknya.”

Yang disebut namanya diam-diam terkejut. Sang Oma lantas melirik ke sebelah Arsa.

“Ini pacar kamu?!” tanya Oma terlihat antusias.

Arsa menggaruk tengkuknya sambil mengangguk.

“Ya Gusti, cantiknya!”

Wajah Alana merebus seketika. Ia berusaha keras tidak salah tingkah. Alana cepat-cepat membungkuk untuk meminta salam. Sang Oma menjulurkan tangan yang langsung dicium Alana.

“Selama sore, Oma. Maaf karena saya, Arsa jadi datang terlambat.”

Demi apa, Alana bingung banget mau ngomong apa.

“Nggak apa-apa. Duh, gaunnya pas sekali buat kamu ya. Padahal Oma kasihnya cuman mengandalkan naluri. Alhamdulillah ukurannya pas!”

Alana terkekeh. “Iya, Oma, makasih. Gaunnya bagus banget.”

“Sama-sama, Cantik. Ayo duduk! Kita makan bareng!”

Sang Oma dengan akrabnya langsung merangkul lengan Alana. Cewek itu agak panik hingga beberapa kali menoleh ke Arsa mencari bantuan. Namun cowok itu hanya tersenyum dan menyuruh Alana menuruti kemauan Oma.

“Arsa, kamu makannya di tempat laki-laki dong! Ini meja khusus perempuan!” tegur salah seorang tante Arsa yang duduk di sana.

“Mentang-mentang bawa pacar jadi mau nempel terus ya!” timpal Tante Arsa yang lain.

Arsa yang lagi menyalami ibunya jadi tertawa. “Iya, ini mau salim aja sama mamih kok, Tan.”

“Sa!” bisik Alana yang udah duduk di ujung sebelah Oma. Arsa yang hendak melenggang langsung balik arah menghampiri Alana.

“Kenapa?”

“Gue ditinggalin di sini sendiri?”

“Iya, gapapa. Liat sendiri kan Oma suka sama lo.”

“Eh, tapi gue takut! Lo di sini aja dong!”

“Nggak usah takut. Nggak bakal ditanya macem-macem. Cuman basic information aja paling. Gue duduk deket sini kok. Masih keliatan.”

Alana cemberut. Arsa gemas lantas menepuk pucuk kepala Alana.

“Nanti kalo udah nggak nyaman atau cape, chat gue aja,” ujarnya sembari mengusap rambut Alana lantas melenggang pergi.

Dengan kedua tangan yang terselip di saku celana, Justin berjalan menyusuri koridor. Awalnya tidak ada yang menarik. Sampai ekor matanya menangkap seorang gadis di luar jendela tengah mengibaskan tangannya di wajah. Langkahnya terhenti. Mata serigala itu memicing dan menemukan derai air mata di kedua belah pipi sang gadis.

Justin berusaha abai. Namun nggak mungkin bisa karena gadis itu Freya. Dia udah berusaha keras buat tak acuh. Berusaha nggak menunjukkan perasaannya untuk gadis nomer satu di kelasnya itu. Namun kali ini, tungkainya memilih untuk menuruti kata hati daripada perintah otaknya. Justin berjalan ke tepi jendela dan menyenderkan tubuhnya di sana.

“Ngapain di sini sendirian?”

Freya terperanjat. Pandangnya seketika bertubrukan dengan netra redup Justin. Ia buru-buru mengusap pipinya. Menghapus jejak air mata yang sudah dilihat Justin sedari tadi.

“Nggak apa-apa kok,” jawab Freya bohong.

“Nggak apa-apa tapi ingusnya ngalir terus.”

Rasanya ada yang meledak dalam diri Freya. Ia langsung menggosok hidungnya cepat. Menciptakan seringai gemas di bibir Justin. Lucu, batinnya.

“Beneran nggak apa-apa, Justin,” ujar Freya lagi namun kali ini dengan air mata yang mengalir. Kebiasaan cewek kalo ditanyain pas lagi nangis bukannya berhenti malah makin kenceng nangisnya.

Helaan napas halus berseloroh dari mulut Justin. Kepalanya menengok ke segala sudut memastikan tidak ada orang.

“Nggak ada orang lain selain kita di sini. Cerita aja. Gue dengerin,” ujar Justin sembari melipat tangannya bersandar di tepi jendela.

Bibir gadis itu bergetar pertanda menahan tangis. “Tadi ... gue dipanggil ke ruang guru. Katanya nilai gue banyak yang turun. Trus mereka bilang ... kalo nilai gue kaya gini terus, bisa-bisa gue nggak bisa rangking satu lagi,” jelas Freya dengan menahan isak.

“Padahal ... padahal gue harus rangking satu terus menerus, biar gue bisa masuk rangking paralel. Kalo gue nggak rangking satu ... gimana? Nanti gue ... gimana?”

Freya tak sanggup menahan tangisnya lagi. Tak peduli Justin akan mengejeknya cengeng. Perkataan guru tadi begitu menyayat hatinya. Tidak bisa masuk ke deretan siswa berprestasi adalah momok paling menakutkan dalam hidup Freya. Ia tidak bisa membayangkan respons ibunya bila tahu soal ini. Freya takut, sangat takut.

Justin hanya diam. Membiarkan gadis itu untuk menghabiskan rasa sesaknya. Ia memikirkan apa yang harus ia katakan untuk sekedar mengurangi beban Freya. Dunianya dengan dunia Freya sangat berbeda. Apa yang dia anggap sepele tidak berarti sepele juga untuk Freya, contohnya persoalan nilai.

“Lo masih terlalu muda buat nangisin masa depan, Fre. Umur segini harusnya lo lebih banyak nangisin cowok daripada persoalan nilai yang nggak ada abisnya. Meskipun nangisin cowok juga kagak bener. Tapi ya ... menurut gue ... gimana ya,” ujar Justin yang malah bingung sendiri. Bukan bingung, tapi gugup soalnya Freya natap dia terus dari tadi.

“Pokoknya lo nggak usah takut dah nggak bisa rangking satu. Di kelas kita siapa sih yang bisa nyaingin lo? Lo kan udah dapet sebutan cewek nomer satu, pasti lo akan terus jadi nomer satu.” Bahkan di hati gue.

Freya hanya termenung. Memikirkan ucapan Justin yang menciptakan gelenyar aneh di hatinya.

“Tapi kalo beneran gue nggak rangking satu gimana?”

“Belum beruntung.”

Gadis itu merengek membuat Justin terkekeh.

“Pasti Sam yang bakal ranking satu paralel dan gue nomer dua. Harusnya gue selalu nerima ajakan Sam belajar bareng. Kan gue jadi bisa tau kemampuan Sam gimana. Nyesel banget sih,” gerutu Freya dengan kedua tangan yang sibuk menghapus air matanya.

Mendengar Freya menyebut nama cowok itu, Justin menghentikan tawanya. Dia menunduk dengan kepalan tangan yang mengerat. Sial, cowok bernama Sam itu adalah saingan terberatnya. Dan kini secara terang-terangan, Freya menyebut nama cowok itu di depannya.

Freya mendongak, ia menoleh ke kanan dan menemukan seseorang tengah berjalan hendak melewatinya. Besar kemungkinan orang itu akan melihat wajahnya yang berantakan.

“Duh, kenapa ada yang lewat sih!” Freya berusaha menyembunyikan wajahnya sambil berbalik arah. Namun dari arah lain ternyata ada orang yang hendak lewat juga. “Ihhh, kok pada lewat sini!”

Freya kembali berbalik sambil menutupi wajahnya. Justin yang menyadari hal itu lantas mengulurkan tangannya. Ia menarik kepala Freya mendekat. Freya tersentak dengan mata yang membulat. Justin membawa Freya untuk bersembunyi di bahunya.

“Dah, diem,” ujar Justin singkat dengan masih memeluk kepala Freya. Tangan satunya dibuat menopang dagu. Dia berusaha santai, walau hatinya bergetar tak karuan.

Freya masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Matanya bahkan tak bisa berkedip. Aroma parfum cowok itu menyeruak, menembus indra penciumannya. Sebuah elusan lembut terasa di kepala. Apa .. kenapa Justin tiba-tiba memeluknya seperti ini?

Namun tak bisa dipungkiri, ini terasa nyaman. Maka dengan menyampingkan egonya, Freya menelusup semakin dalam di bahu Justin. Tangisnya kembali berderai. Ia bahkan lupa kapan terakhir kalinya mendapat pelukan hangat. Selama ini, Freya tak punya tempat untuk bersandar seperti sekarang.

Justin tahu Freya menangis di sana. Ia bisa merasakan dingin air mata Freya yang membasahi seragamnya. Tak ada kalimat yang terucap. Namun detaknya sangat berisik. Justin takut Freya mendengarnya.

“Lo gemeter banget,” ucap Justin menyadari tubuh Freya bergetar sedari tadi.

“Maaf,” lirih gadis itu hendak menarik kepalanya dari sana namun Justin tahan.

“Nggak apa-apa, gue juga.”

haruquinza

Dengan kedua tangan yang terselip di saku celana, Justin berjalan menyusuri koridor. Awalnya tidak ada yang menarik. Sampai ekor matanya menangkap seorang gadis di luar jendela tengah mengibaskan tangannya di wajah. Langkahnya terhenti. Mata serigala itu memicing dan menemukan derai air mata di kedua belah pipi sang gadis.

Justin berusaha abai. Namun nggak mungkin bisa karena gadis itu Freya. Dia udah berusaha keras buat tak acuh. Berusaha nggak menunjukkan perasaannya untuk gadis nomer satu di kelasnya itu. Namun kali ini, tungkainya memilih untuk menuruti kata hati daripada perintah otaknya. Justin berjalan ke tepi jendela dan menyenderkan tubuhnya di sana.

“Ngapain di sini sendirian?”

Freya terperanjat. Pandangnya seketika bertubrukan dengan netra redup Justin. Ia buru-buru mengusap pipinya. Menghapus jejak air mata yang sudah dilihat Justin sedari tadi.

“Nggak apa-apa kok,” jawab Freya bohong.

“Nggak apa-apa tapi ingusnya ngalir terus.”

Rasanya ada yang meledak dalam diri Freya. Ia langsung menggosok hidungnya cepat. Menciptakan seringai gemas di bibir Justin. Lucu, batinnya.

“Beneran nggak apa-apa, Justin,” ujar Freya lagi namun kali ini dengan air mata yang mengalir. Kebiasaan cewek kalo ditanyain pas lagi nangis bukannya berhenti malah makin kenceng nangisnya.

Helaan napas halus berseloroh dari mulut Justin. Kepalanya menengok ke segala sudut memastikan tidak ada orang.

“Nggak ada orang lain selain kita di sini. Cerita aja. Gue dengerin,” ujar Justin sembari melipat tangannya bersandar di tepi jendela.

Bibir gadis itu bergetar pertanda menahan tangis. “Tadi ... gue dipanggil ke ruang guru. Katanya nilai gue banyak yang turun. Trus mereka bilang ... kalo nilai gue kaya gini terus, bisa-bisa gue nggak bisa rangking satu lagi,” jelas Freya dengan menahan isak.

“Padahal ... padahal gue harus rangking satu terus menerus, biar gue bisa masuk rangking paralel. Kalo gue nggak rangking satu ... gimana? Nanti gue ... gimana?”

Freya tak sanggup menahan tangisnya lagi. Tak peduli Justin akan mengejeknya cengeng. Perkataan guru tadi begitu menyayat hatinya. Tidak bisa masuk ke deretan siswa berprestasi adalah momok paling menakutkan dalam hidup Freya. Ia tidak bisa membayangkan respons ibunya bila tahu soal ini. Freya takut, sangat takut.

Justin hanya diam. Membiarkan gadis itu untuk menghabiskan rasa sesaknya. Ia memikirkan apa yang harus ia katakan untuk sekedar mengurangi beban Freya. Dunianya dengan dunia Freya sangat berbeda. Apa yang dia anggap sepele tidak berarti sepele juga untuk Freya, contohnya persoalan nilai.

“Lo masih terlalu muda buat nangisin masa depan, Fre. Umur segini harusnya lo lebih banyak nangisin cowok atau daripada persoalan nilai yang nggak ada abisnya. Meskipun nangisin cowok juga kagak bener. Tapi ya ... menurut gue ... gimana ya,” ujar Justin yang malah bingung sendiri. Bukan bingung, tapi gugup soalnya Freya natap dia terus dari tadi.

“Pokoknya lo nggak usah takut dah nggak bisa rangking satu. Di kelas kita siapa sih yang bisa nyaingin lo? Lo kan udah dapet sebutan cewek nomer satu, pasti lo akan terus jadi nomer satu.” Bahkan di hati gue.

Freya hanya termenung. Memikirkan ucapan Justin yang menciptakan gelenyar aneh di hatinya.

“Tapi kalo beneran gue nggak rangking satu gimana?”

“Belum beruntung.”

Gadis itu merengek membuat Justin terkekeh.

“Pasti Sam yang bakal ranking satu paralel dan gue nomer dua. Harusnya gue selalu nerima ajakan Sam belajar bareng. Kan gue jadi bisa tau kemampuan Sam gimana. Nyesel banget sih,” gerutu Freya dengan kedua tangan yang sibuk menghapus air matanya.

Mendengar Freya menyebut nama cowok itu, Justin menghentikan tawanya. Dia menunduk dengan kepalan tangan yang mengerat. Sial, cowok bernama Sam itu adalah saingan terberatnya. Dan kini secara terang-terangan, Freya menyebut nama cowok itu di depannya.

Freya mendongak, ia menoleh ke kanan dan menemukan seseorang tengah berjalan hendak melewatinya. Besar kemungkinan orang itu akan melihat wajahnya yang berantakan.

“Duh, kenapa ada yang lewat sih!” Freya berusaha menyembunyikan wajahnya sambil berbalik arah. Namun dari arah lain ternyata ada orang yang hendak lewat juga. “Ihhh, kok pada lewat sini!”

Freya kembali berbalik sambil menutupi wajahnya. Justin yang menyadari hal itu lantas mengulurkan tangannya. Ia menarik kepala Freya mendekat. Freya tersentak dengan mata yang membulat. Justin membawa Freya untuk bersembunyi di bahunya.

“Dah, diem,” ujar Justin singkat dengan masih memeluk kepala Freya. Tangan satunya dibuat menopang dagu. Dia berusaha santai, walau hatinya bergetar tak karuan.

Freya masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Matanya bahkan tak bisa berkedip. Aroma parfum cowok itu menyeruak, menembus indra penciumannya. Sebuah elusan lembut terasa di kepala. Apa .. kenapa Justin tiba-tiba memeluknya seperti ini?

Namun tak bisa dipungkiri, ini terasa nyaman. Maka dengan menyampingkan egonya, Freya menelusup semakin dalam di bahu Justin. Tangisnya kembali berderai. Ia bahkan lupa kapan terakhir kalinya mendapat pelukan hangat. Selama ini, Freya tak punya tempat untuk bersandar seperti sekarang.

Justin tahu Freya menangis di sana. Ia bisa merasakan dingin air mata Freya yang membasahi seragamnya. Tak ada kalimat yang terucap. Namun detaknya sangat berisik. Justin takut Freya mendengarnya.

“Lo gemeter banget,” ucap Justin menyadari tubuh Freya bergetar sedari tadi.

“Maaf,” lirih gadis itu hendak menarik kepalanya dari sana namun Justin tahan.

“Nggak apa-apa, gue juga.”

haruquinza

Tidak ada hari yang lebih membahagiakan dari hari saat Kevin akhirnya bisa duduk satu meja dengan gadis idamannya, Stella. Pagi tadi, Stella benar-benar menagih janji Justin untuk ke kantin bersama. Justin yang awalnya cuman iseng nggak bisa nolak karena nggak enak sama Stella. Jadinya dia juga ngajak Kevin biar itu anak nggak ngambek.

Kevin emang nggak ngambek, tapi Stella yang ngambek. Semua wajah di sana tampak sumringah kecuali dia. Mungkin dia malah udah kehilangan selera makannya karna dari tadi siomay di hadapannya cuman diaduk-aduk.

“Dimakan, La. Jangan diliatin doang,” tegur Justin yang duduk di hadapannya. Sebenarnya Kevin udah maksa duduk di sana. Tapi Justin ngasih saran buat nggak terlalu agresif sama Stella. Takut anaknya makin nggak nyaman.

“Iyaa,” sahut Stella setengah hati. Sebenernya dia udah nggak betah banget duduk di sini. Apalagi dari tadi Kevin nggak berhenti ngelirik dia walaupun mulutnya sibuk ngobrol sama Wanda. Dan anehnya lagi, Kevin nggak negur dia dari tadi. Cuman nyapa di awal doang.

“Oh iya, Tin. Kayaknya kita belum kenalan deh,” sahut Wanda yang emang nungguin momentum ini dari tadi.

“Oh ya? Tapi gue udah tau nama lo kok. Wanda kan?”

Wajah Wanda memerah seketika seperti kepiting rebus. Stella refleks menendang kaki Wanda dan dibalas cubitan oleh gadis itu. Dia nggak bisa menyembunyikan senyumnya. Stella tau temannya itu udah salting banget.

“Eh iya! Kirain belum kenal,” balas Wanda disertai kekehan canggung campur gugup.

“Dikenalin sama Kevin,” tambah Justin lagi dengan senyum tipis.

“Kevin? Kok bisa? Gimana ceritanya?”

“Ya bisa lah. Kan dia bandar cewe. Pasti sering dimintain temen-temennya buat dikenalin sama cewe,” timpal Stella membuat ketiga orang di sana menoleh ke arahnya bersamaan.

Justin terbahak. “Bener sih, ceweknya banyak,” ledek Justin yang langsung mendapat injakan kaki dari Kevin.

“Mereka cuman temen. Kalo cewek gue pastinya cuman satu,” ujar Kevin sambil menatap penuh arti pada Stella. Yang ditatap hanya memutar bola matanya malas.

Setelah itu, nggak tau gimana ceritanya tiba-tiba Justin sama Wanda satu persatu pamit ke toilet tapi nggak balik sampe sekarang. Alhasil, Stella kejebak berduaan sama Kevin di sini. Nggak ada obrolan di sana. Kevin cuman sibuk mainin ponselnya, kaya nggak nganggap Stella di sana. Stella yang diperlakukan kaya gitu jadi kesel sendiri.

Kevin bukannya nggak anggep Stella. Cuman dia lagi berusaha menetralkan degup jantungnya yang mau meledak. Nggak pernah dia ngerasa se-grogi ini deket sama cewek. Biasanya dia punya banyak topik buat mencairkan suasana. Tapi ini sekedar natap mata Stella aja dia nggak berani.

“Sebenernya tujuan lo apa sih kaya gini sama gue?” ujar Stella membuat Kevin menoleh cepat.

“Maksudnya?”

“Udah berkali-kali gue nolak tapi lo masih aja ngejar gue. Lo merasa tertantang karena gue nolak? Penasaran kok bisa ada cewek yang nggak terpengaruh sama gombalan lo?”

“Nggak gitu maksud gue, La.”

“Trus apa?”

“Gue cuman mau temenan sama lo.”

“Sikap lo nggak mencerminkan ngajak temenan, tapi ....”

“Tapi ...?”

Mulut Stella terkatup. Kenapa rasanya jadi dia yang kepedean?

Kevin tersenyum tipis melihat Stella tak mampu melanjutkan kalimatnya. “Oke, sebelumnya gue minta maaf kalo sikap gue bikin lo nggak nyaman. Gue cuman ... ya ... pengen deket sama lo. Kita kan satu kelas. Aneh aja kalo kita kesannya kaya musuhan.”

“Trus setelah lo dapetin itu, lo mau apa?”

“Ya temenan sama lo! Ngobrol, ke kantin bareng kaya gini.”

“Gue nggak percaya lo cuman berharap sebatas temen, Kev. Lo pasti penasaran karena gue nggak kaya cewek lain yang dikasih gombalan dikit langsung meleleh. Lo merasa tertantang karena nggak bisa dapetin gue, kaya lo dapet cewek-cewek di luar sana. Iya kan?”

“Nggak gitu maksud gue, La!”

“Dan saat gue akhirnya luluh trus lo dapetin apa yang lo mau dari gue, lo bakal pergi. Ninggalin gue sendirian. Itu mau lo kan?”

“Stella, dengerin gue dulu.”

“Gue tekanin di sini ya, Kev.” Stella tak sedikitpun memberi kesempatan untuk Kevin bicara. “Sampai kapanpun, gue nggak akan terpengaruh sama gombalan lo. Gue nggak akan baper. Jadi daripada lo buang-buang waktu, mending lo cari cewek lain. Lagi pula, gue sama sekali nggak ada niatan buat pacaran. Apalagi sama lo.”

Setelahnya, Stella beranjak meninggalkan Kevin dengan kalimat menggantung di tenggorokan.

Kevin nggak pernah bermaksud mempermainkan Stella. Kevin nggak pernah berpikiran seperti yang Stella duga. Dia benar-benar serius. Bahkan saat dia mendapat berbagai penolakan dari Stella, dia masih terus maju. Padahal Kevin punya banyak cewek yang udah ngantri buat jadi pacarnya. Tapi Kevin cuman mau Stella.

Stella itu misterius. Banyak rahasia yang tersimpan di bola matanya. Dia terlihat kuat. Namun sesekali tatapannya memohon uluran tangan. Menarik Kevin untuk turut mengurai benang kusut kehidupan gadis itu.

Kerap kali Kevin memergoki Stella menangis di sudut sekolah. Entah beban apa yang tengah dipikul gadis itu. Namun anehnya Stella bisa tampak baik-baik saja di hadapan banyak orang. Topengnya terlalu tebal.

Bukan Kevin kalau menyerah begitu saja. Ia akan terus berusaha merebut hati gadis itu. Entah bagaimana caranya, Kevin ingin menjadi bahu untuk Stella bersandar dari segala duka yang ia pendam.

©haruquinza

Hai, gue Kevin Aditya. Panggil aja Kevin atau kalo ribet panggil sayang juga boleh HAHAHA. Beberapa dari kalian mungkin udah nggak asing lagi sama gue, terutama yang udah kenalan sama sohib gue, Justin Mahendra. Kalo di cerita dia gue cuman muncul buat mencairkan suasana aja, di sini kehidupan gue bakal dikupas tuntas! Duh, kok gue takut ya. Takut diapa-apain sama haruquinza :')

Gue bukan cowok baik. Mana ada cowok baik yang tiap malemnya nongkrong di arena sambil nyebat, pernah nyicip berbagai minuman haram walau cuman setetes, dan bolak-balik ruang BK gara-gara pake knalpot berisik. Nggak ada yang bisa dibanggain dari diri gue, kecuali kegantengan. Itu juga warisan dari bokap. Dahlah.

Gue emang nggak punya apa-apa, tapi gue punya satu hal. Cinta buat cewek yang nggak sengaja keserempet motor gue beberapa hari yang lalu. Cewek yang sampai saat ini gue nggak tahu namanya. Cewek yang mau gue tolongin malah kabur. Nggak tau dia siapa, tapi jantung gue selalu berdetak kencang setiap ingat tatapan matanya.

Malam itu, gue dikejar sama geng musuh yang nggak sengaja gue temuin di jalanan. Salah satu dari mereka berhasil gue kalahkan tempo hari. Mungkin mereka masih nggak terima sama kekalahannya. Ini memang udah jadi resiko buat si pemenang. Apalagi kalo kemenangannya membawa kerugian untuk yang kalah.

Bakal berbahaya kalau situasi kejar mengejar ini terjadi di jalan raya yang padat kendaraan. Gue lalu membawa mereka ke jalanan sepi yang didominasi ruko tertutup. Awalnya gue mau melawan. Namun ngeliat pasukan mereka yang cukup banyak sedangkan gue sendiri, niat itu gue batalkan. Kabur, gue harus kabur dari mereka!

Gue pikir karena nggak ada orang makanya gue bawa motor ngebut abis-abisan. Saat gue berbelok ke kanan, ada cewek yang tiba-tiba muncul. Sontak gue banting arah tapi telat karena cewek itu udah keburu kesenggol. Dia jatuh, gue ikut jatuh. Shit! Ngapain sih itu cewek tiba-tiba muncul?!

Cewek itu meringis kesakitan. Gue langsung beranjak bantuin dia. “Sorry, sorry, gue nggak tau lo bakal muncul,” ujar gue sambil bantu dia berdiri.

Dia nggak jawab apa-apa. Cuman ngeliatin siku sama lututnya yang berdarah. Gue tambah panik dan makin panik lagi denger gerombolan motor yang tadi ngejar gue semakin dekat. Tanpa pikir panjang, gue langsung narik cewek itu kabur.

Motor gue ditinggal dan bakal jadi bukti terkuat keberadaan gue di sini. Gue harus cari tempat sembunyi yang jauh dari sana. Bisa aja ngadepin mereka. Tapi masalahnya gue bawa cewek. Nanti kalo dia kenapa-kenapa tambah masalah lagi hidup gue.

Gue juga nggak tau kenapa harus narik ini cewek. Padahal bisa aja gue tinggal di sana. Gatau dah, mukanya minta dikasihani emang. Tapi cantik sih.

Ada sebuah ruko yang masih sedikit terbuka. Gue menuntun cewek itu buat masuk ke sana. Setelahnya, gue ikut masuk dan pintunya ditutup rapat. Napas kami berdua memburu. Tangan cewek itu masih dalam genggaman. Gue menatapnya yang sibuk mengatur napas.

Terdengar derap langkah dari luar. Cewek itu sontak beringsut ketakutan. Gue bekap mulutnya lalu membawanya berjongkok. Tolong, jangan sekarang. Setidaknya ijinkan gue buat bawa cewek ini pulang dulu.

Gue rasa mereka sudah menjauh. Cewek itu terpejam sambil memegangi tangan gue yang membekap mulutnya. Dia jelas ketakutan. Tangannya bergetar dengan air muka yang memerah.

“Hei, kita udah aman. Jangan takut,” lirih gue.

Kelopak matanya perlahan membuka dan langsung bertubruk pandang dengan gue. Ada yang menyengat, tapi bukan lebah ataupun listrik. Yang jelas mata lentik itu membuat jantung gue hampir meledak.

Tubuh gue ditarik mundur, menjauh dari dia. Berusaha menetralkan degup yang ingin melompat. Dia jatuh terduduk lantas meringis sambil mengintip luka di sikunya. Ah, gue hampir lupa sama luka itu.

“Lo kenapa narik gue ke sini? Gue mau pulang!” protes dia namun suaranya sangat lirih. Mungkin takut yang di luar akan mendengar.

“Sorry, sorry, tadi niatnya gue mau ngobatin luka lo. Tapi gue lagi dikejar. Jadinya gue bawa lo dulu. Sorry banget.”

Dia hanya berdecak sembari merapikan rambutnya yang berantakan. Gila, ini cewek cakep banget sumpah!

“Lo tunggu di sini ya?”

“Mau ke mana?” sahut dia panik.

“Beli obat buat luka lo. Bentar doang, serius.”

“Lo pasti mau ninggalin gue kan?”

“Enggak! Gue bakal balik lagi beneran. Sebentar doang. Mereka kayaknya masih di sini. Jadi mending lo jangan ke mana-mana. Di sini dulu, oke?”

Dia tidak menjawab. Gue lantas beranjak namun ada yang menarik jaket gue.

“Jangan lama-lama. Gue takut,” ujar gadis itu membuat tubuh gue merinding seketika.

“Iya, gue pasti balik secepat mungkin.”

Setelah mengatakan itu, gue langsung keluar dari sana dan berlari secepat mungkin. Yang ada di pikiran gue cuman dapet obat secepat mungkin dan balik menemui cewek itu. Bahkan gue nggak peduli sama motor yang kayaknya dibawa pergi sama geng itu.

Namun kejadian tak terduga telah terjadi. Saat gue kembali, cewek itu udah nggak ada di sana. Gue cari kemanapun, tetep nggak ketemu. Dia pergi, meninggalkan gue dengan sekotak obat dalam genggaman.

Sampai sekarang, gue nggak pernah ketemu sama dia. Gue hanya berharap dia nggak diculik sama geng yang ngejar gue. Gue berharap dia pulang dengan selamat. Dan gue berharap dia mengobati luka di siku dan lututnya dengan baik, seperti apa yang mau gue lakukan.

Nggak butuh lama buat menyadari debaran aneh yang muncul setiap mengingatnya. Nggak tau kenapa dengan mudahnya gue menaruh perasaan pada sosok cewek yang bahkan gue nggak tau namanya. Sialan itu cewek. Beraninya habis bikin baper langsung kabur. Tunggu aja, gue bakal cari lo ke manapun sampai ketemu.

©haruquinza